SayaTidak Malu Jadi Anak Petani, Justru Bangga. Petani merupakan profesi yang muliam namun belum banyak yang menyadarinya. Kita makan nasi, sayur-sayuran, buah-buahan, atau menikmati kopi adalah hasil dari para petani. Itu baru sebagian yang dihasilkan oleh petani, masih banyak lagi hasil pertanian yang tentu saja dibutuhkan oleh masyarakat
Kita harus menyadari bahwa apa yang kita makan berasal dari
Mengapamahasiswa makan tidak sehat? Bagi sebagian besar mahasiswa , masalah makan berasal dari terlalu banyak makanan (walaupun tidak sehat ). Tetapi sebuah studi baru menunjukkan bahwa persentase yang lebih tinggi dari yang diharapkan dari mereka mungkin tidak cukup makan karena mereka tidak mampu membelinya.
Melakukan obrolan ringan dengan seseorang yang baru kita kenal adalah hal yang penting untuk dilakukan agar membuat kita lebih cepat akrab. Salah satu topik yang dapat kita angkat sebagai bahan pembicaraan dan untuk mengetahui latar belakang seseorang adalah tempat asalnya. Dalam bahasa Inggris, cara untuk bertanya dari mana seseorang berasal dapat dilakukan dengan beberapa frasa berikut. Frasa untuk menanyakan asal seseorang Where are you from originally? Dari manakah asalmu? Where do you come from? Dari manakah asalmu/Kamu datang dari mana? What’s your country of origin? Apa negara asalmu? What state are you from? Dari negara bagian manakah kamu? What is your hometown? Di mana kampung halamanmu? Where is your hometown? Di mana letak kampung halamanmu? Where were you born? Di mana kamu dilahirkan? Where did you grow up? Di mana kamu dibesarkan/Di mana kamu tumbuh? Where is your family from? Dari mana keluargamu berasal? What is your nationality? Apa kewarganegaraanmu/kebangsaanmu? What is your citizenship? Apa kewarganegaraanmu? Are you from around here? [implicit] Apakah kamu berasal dari sekitar sini? Where did you live before you moved here? Di mana kamu tinggal sebelum pindah ke sini? Yang paling umum digunakan untuk menanyakan dari mana seseorang berasal adalah “Where are you from?”. Namun, ada kalanya kita perlu berhati-hati ketika menanyakan itu secara langsung kepada seseorang sebab pertanyaan tersebut dapat menjurus ke arah rasisme; kecuali untuk keperluan pendataan. Dalam obrolan sehari-hari, khususnya dengan orang yang baru kita kenal, yang paling netral adalah dengan bertanya “Where is your family from?” atau dengan pertanyaan tersirat “Are you from around here?” Usahakan untuk tidak menanyakan asal seseorang karena penampilannya yang berbeda sebab sebagian besar orang sensitif akan hal itu; lain halnya jika kita menjadi penasaran sebab aksen atau logat bicara seseorang yang asing di telinga kita. Pertanyaan “What is your hometown?” merujuk pada kampung halaman yang lebih spesifik, misalnya Singapore, Malaysia atau Jakarta. Sedangkan “Where is your hometown?” mencakup jawaban yang lebih luas atau tidak rinci seperti nama benua atau negara bagian. Dan untuk menanyakan asal seseorang dalam konteks lain, contohnya adalah sebagai berikut. What school do you attend? Di mana kamu bersekolah/menempuh pendidikan? Which school do you go to? Di mana kamu bersekolah? Where do you go to school? Di mana kamu bersekolah? What company do you work for? Di mana kamu bekerja? Which company are you working for? Di perusahaan mana kamu bekerja? What company are you with? Dari perusahaan mana kamu berasal? Kata “school” merujuk pada segala tingkat pendidikan, dan umumnya tingkat universitas. Jika yang dimaksud adalah SMA, maka gunakan “high school” atau “secondary school” British; dan untuk SMP, yang dipakai yaitu “junior high school” atau “primary school”. Apabila kita tahu bahwa lawan bicara sudah menyelesaikan pendidikannya, maka auxiliary “do” diganti menjadi “did”, contohnya “Where did you go to school?” Untuk menanyakan asal instansi atau organisasi seseorang secara umum, kita juga bisa menggunakan frasa “Where are you from?” Agar lebih mengerti penggunaannya, silahkan simak dialog berikut. Percakapan tentang menanyakan asal seseorang Dialog I A Excuse me, is this Orchard Street? Permisi, apakah ini Orchard Street? B Yes, it is. Where do you come from? Ya. Dari mana kamu berasal? A I come from Malaysia. I’d like to shop here. Saya berasal dari Malaysia. Saya hendak berbelanja di sini Dialog II A Hello, I’m planning to take my nephew to this daycare. But, he can’t speak English. Halo, saya hendak membawa keponakan saya ke penitipan ini. Tapi, dia tidak bisa bahasa Inggris B Oh, where is he from? Oh, dari mana dia berasal? A He’s from Japan. Dia dari Jepang B That will be no problem, we communicate with babies that can only cry too. Our workers will take care of him. Itu tidak masalah, kami juga biasa berkomunikasi dengan bayi yang hanya bisa menangis saja. Karyawan kami akan menjaganya Dialog III A When I was younger, I used to eat rice every day. Ketika aku kecil, aku selalu makan nasi setiap hari B Where did you grow up? In Asia? Di mana kamu dibesarkan? Asia? A Yes, Indonesia exactly. Ya, tepatnya Indonesia B Can you live without rice now? Bisakah kamu hidup tanpa nasi sekarang? A My family had to live overseas when I was 17, we didn’t have rice for daily meal ever since. Keluargaku harus tinggal di luar negeri ketika aku berusia 17, kami tidak makan nasi setiap hari semenjak itu Dialog IV A Are you a college student? Apakah kamu seorang mahasiswa? B I just graduated last month. Saya baru lulus bulan lalu A Which school did you go to? Di mana kamu kuliah? B I went to LaSalle College. I studied Fashion Business. Saya kuliah di LaSalle College. Saya mempelajari Bisnis Fashion Dialog V A Hello, we have a meeting with Mr. Joseph Halo, kami ada jadwal rapat dengan Mr. Joseph B What company are you with? Dari perusahaan mana kalian berasal? A We are from Tsui Corporation. Kami dari Tsui Corporation B The meeting is in 15 minutes, please sign here. Rapatnya dimulai 15 menit lagi, mohon tanda tangan di sini terlebih dulu
denganukuran yang sama, dan pencatat waktu. Langkah-langkah: 1. Letakkan dua buah es batu pada masing-masing wadah yang telah disiapkan. Wadah sebaiknya berukuran dan mempunyai warna dan bentuk yang sama. 2. Satu wadah diletakkan di luar kelas di bawah sinar matahari. Wadah kedua diletakkan di atas meja di dalam kelas. 3.
– Setiap hari kita dipaksa untuk bikin keputusan. Tapi keputusan yang paling sulit dibuat adalah memutuskan hari ini enaknya mau makan apa.“Mau makan apa nich??” bisa jadi adalah pertanyaan sederhana yang jawabannya lebih sulit dari soal-soal kalkulus. Loh serius! Saking susahnya, meskipun udah dipikirin dan direnungin lama-lama, seringkali kita masih aja nggak nemu jawabannya. Akhirnya–gara-garak capek mikir–kita malah lebih mutusin nggak jadi makan aja kalian pernah kayak gitu?Nyatanya, mutusin mau makan apa itu emang butuh lebih dari sekadar berpikir. Butuh perenungan dan pertimbangan yang benar-benar matang. Lha wong ketika harus mutusin mau makan apa, tiba-tiba aja di otak kita semua makanan terdengar enak. Tiba-tiba kita jadi pengin semuanya, padahal yang bisa kita makan ya cuman satu otak kita dipaksa buat ngebandingin semua makanan yang kita anggap enak. Iya semuanya! Kita dipaksa ngebandingin mana yang lebih baik di antara nasi padang, sate ayam, soto lamongan, bakso malang, bakmi jawa, sampai magelangan, hanya untuk memilih satu makanan dalam waktu yang relatif setelah menemukan makanan terbaik kita bisa langsung bikin keputusan? Ooo tidak semudah itu, Danu!Otak kita masih harus memikirkan apakah harga makanannya kemahalan apa nggak, belinya jauh apa nggak, ngantrinya lama apa nggak, tempatnya rame apa nggak, dan ada tukang parkirnya apa sinilah kita harus bersyukur kepada teknologi yang sedikit meringankan kerja otak kita. Yhaa, berkat keberadaan aplikasi online kita nggak perlu lagi mikirin jauh, ngantri, atau masalahnya, di tengah kemudahan yang diberikan teknologi ini, datang juga biaya tambahan yang cukup lumayan. Akhirnya seringkali kita menemukan diri kita suka perhitungan, lihat ongkir 11 rebu aja bawaannya pengin melipir sendiri. Lumayan cuy, 11 rebu bisa dapat nasi goreng baru mikirin makan buat diri sendiri, lho. Belum ngomongin–mutusin–mau makan apa–sama orang lain 🙂 dan ini ruibet pengin makan ayam, si doi bosen sama ayam. Kita pengin makan nasi padang, si doi lagi diet. Kita ngajak makan bakmi, tapi doi katanya udah makan bakmi seminggu yang lalu jadi pengin makan yang ditanya “yauda maunya makan apa?”, jawabnya malah “terserah.” Hassssh bukannya berangkat cari makan, topik ini seringnya bikin orang malah berantem. Eh, masih mending kalau cuman berantem, gimana kalau gara-gara saking laparnya, mereka malah saling gigit satu sama lain. Jebul malah jadi kanibal gara-gara nggak kuat kelaparan karena kelamaan mutusin mau makan saya kasih tahu ada yang lebih horror lagi dari–mutusin–mau makan apa–sama orang lain. Yaitu……. mutusin–mau makan apa–sama orang lain–yang kalau makan suka pilih-pilih!!1!Diajak makan seafood, nggak suka. Diajak makan tongseng nggak suka. Ditawarin pilihan makan yang lain juga bilangnya nggak suka. Eh pas ditanya sukanya makan apa, jawabnya bosen makan yang sama terus, pengin coba makan yang lain. Hasssshhhh, berfotosintesis aja sana mb~Dan anehnya, meskipun kita berhadapan dengan pertanyaan ini hampir setiap hari, kita masih aja suka bingung dan mikir lama kalau ditanya mau makan apa. Padahal nih ya, ini tuh masih level keputusan sederhana yang dampaknya nggak terlalu signifikan sama sedih saya. Kalau mutusin mau makan apa aja kita nggak bisa, gimana caranya mutusin pilihan hidup yang lebih besar kayak di masa depan mau kerja apa, mau nikah sama siapa, dan mau menyelamatkan dunia dengan cara apa…Tapi jangan terlalu khawatir, ternyata eh ternyata, susah nentuin mau makan apa adalah sifat yang sangat manusiawi. Yhaa, betul. Ini dirasakan semua ini disebutnya “Choice Overload” yaitu sebuah keadaan di mana otak kesulitan bikin keputusan saat dihadapkan kepada banyak tahu nggak kenapa otak mikir lama ketika memutuskan mau makan apa?Proses berpikir yang cukup lama ternyata bentuk kehati-hatian otak agar tidak salah mengambil keputusan yaitu memilih dia sebagai pacarmu makanan yang ternyata nggak enak dan bikin kita nggak sangat berhati-hati karena dia tahu betul kalau apa yang kita makan akan mempengaruhi perasaan kita. Good food, good mood lhaaa~Makanya ketika kita salah memutuskan mau makan apa, biasanya kita akan terus menyesalinya sampai waktu yang cukup jangan heran ketika ada sebagian orang yang lebih suka cari aman dengan bilang “terserah” ketika diminta memutuskan untuk makan apa. Alih-alih menyampaikan apa yang mereka inginkan, mereka malah sungkan atau takut apa yang mereka pilih nggak sesuai dengan apa yang orang lain yang kocak adalah, orang yang diterserahin–yang harus bikin keputusan mau makan apa–seringkali juga punya perasaan yang sama. Akhirnya ya cuman bisa lempar-lemparan “terserah”. Ya gitu aja terus sampai negara api gimana dong biar nggak bingung ketika harus memutuskan mau makan apa?Tenang, Saya punya tiga saran untuk bikin list makanan yg disukai apa, makanan yang nggak disukai apa. Lalu–ketika makan dengan orang lain–suruh mereka pilih dari list makanan yang kamu ini cara yang agak susah. Tapi cara ini menjamin kalian menikmati makanan yang akan kalian makan nggak peduli makanannya apa. Yang perlu kalian lakukan hanya baru makan ketika sudah benar-benar lapar yang literally benar-benar lapar banget. Kan makan pas lapar, makanan apa pun rasanya bakal enak nggak harus nunggu lapar, nggak harus nunggu kaya, dan ada jaminan kalau rasa makanannya udah pasti enak, bikin kenyang, dan masaknya gampang. Iya! Kalau bingung mau makan apa, makan indomie aja!Terakhir diperbarui pada 13 Februari 2019 oleh Nia Lavinia n8uSuY.
  • ygvx4k1xsz.pages.dev/455
  • ygvx4k1xsz.pages.dev/24
  • ygvx4k1xsz.pages.dev/191
  • ygvx4k1xsz.pages.dev/475
  • ygvx4k1xsz.pages.dev/77
  • ygvx4k1xsz.pages.dev/227
  • ygvx4k1xsz.pages.dev/480
  • ygvx4k1xsz.pages.dev/396
  • saya baru menyadari bahwa apa yang saya makan berasal dari